Aston Villa musim ini menjadi fenomena unik di Liga Primer. Statistik dasar menunjukkan mereka termasuk tim terburuk di liga, dengan xG (Expected Goals) rendah yang seharusnya menempatkan mereka di zona degradasi. Dibawah ini akan ada penjelasan tentang berita bola menarik lainnya di FOOTBALL ASTRO.

Kreativitas peluang minim dan dominasi bola yang kurang membuat banyak analis meragukan kemampuan mereka bersaing di papan atas. Namun, kenyataannya berbeda. Villa kini nyaman berada di posisi keempat klasemen sementara.
Mereka berhasil memenangkan enam dari tujuh pertandingan terakhir, menunjukkan performa impresif yang menentang logika sepakbola modern. Laju ini membuat mereka mampu bersaing dengan tim-tim elite Inggris.
AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!
![]()
Kunci keberhasilan Villa bukan karena penguasaan bola atau taktik superior, melainkan efisiensi luar biasa dari gol-gol jarak jauh. Pemain seperti Morgan Rogers, Emiliano Buendia, dan Matty Cash mampu mengubah peluang kecil menjadi gol spektakuler, yang membuat tim ini tetap kompetitif meski statistik dasar tidak mendukung.
Gol Jarak Jauh Sebagai Senjata Rahasia
Musim ini, Aston Villa mengandalkan gol jarak jauh sebagai sumber utama poin. Dari 15 gol yang dicetak, delapan berasal dari luar kotak penalti, angka yang sangat tinggi untuk standar Liga Primer. Tingkat konversi tembakan jarak jauh mereka mencapai 15,7%, jauh di atas rata-rata liga 5,4%.
Gol-gol spekulatif ini menjadi penyelamat Villa. Tanpa delapan gol ajaib dari jarak jauh, klub kemungkinan besar akan berada di posisi ke-15, bukan di empat besar. Keberhasilan ini menunjukkan kemampuan individu pemain dalam mengeksekusi peluang sulit menjadi faktor kunci performa tim.
Meski begitu, ketergantungan pada gol jarak jauh adalah tanda tanya untuk keberlanjutan. Statistik historis menunjukkan strategi ini sulit dipertahankan sepanjang musim, sehingga Villa harus mencari cara menyeimbangkan peluang dari dalam kotak penalti.
Baca Juga: Talenta Muda Barcelona yang Menyita Perhatian, Tapi Tak Selevel Messi & Ronaldo
Striker Utama yang Macet

Sementara gol jarak jauh menonjol, Ollie Watkins justru mengalami musim yang suram. Striker utama Villa baru mencetak satu gol dalam 17 penampilan, dengan xG per 90 menit hanya 0,25. Tingkat konversinya juga rendah, hanya lima persen.
Masalah Watkins bukan hanya soal penyelesaian akhir, tapi juga minimnya suplai bola dari rekan-rekannya. Villa tercatat sebagai tim terburuk ketiga dalam menciptakan peluang besar untuk striker, membuat Watkins kesulitan menunjukkan ketajamannya.
Paradoks ini menunjukkan meski tim menang, striker utamanya menderita. Jika Villa ingin bertahan di empat besar, mereka perlu memperbaiki distribusi peluang untuk Watkins. Bergantung pada gol jarak jauh saja tidak akan cukup di jangka panjang.
Keberuntungan dan Bola Mati
Selain gol jarak jauh, eksekusi bola mati menjadi kunci lain kesuksesan Villa. Tendangan bebas dan skema sudut dari Morgan Rogers dan Buendia menghasilkan gol-gol penting. Ini menutupi kelemahan dalam permainan terbuka mereka.
Manajemen laga oleh Unai Emery juga patut diacungi jempol. Villa mampu meraih rata-rata 1,5 poin per pertandingan saat tertinggal 1-0, rekor terbaik di liga. Mentalitas dan rotasi pemain, termasuk Buendia dan Tielemans, memberi dampak instan dari bangku cadangan.
Kombinasi efisiensi luar biasa, bola mati, dan manajemen cerdas membuat Aston Villa mampu menentang statistik dan bersaing di empat besar, meski data dasar menunjukkan mereka seharusnya berada di zona degradasi. Manfaatkan waktu luang Anda untuk mengeksplor berita bola menarik lainnya di footballastro.com.
