Mauricio Pochettino mengungkapkan bahwa Marc Cucurella sempat masuk daftar jual Chelsea sebelum akhirnya menjadi salah satu bek sayap terbaik Premier League. Pernyataan ini ia sampaikan saat membahas perkembangan pemain muda The Blues dalam podcast terbaru.

Cucurella didatangkan dari Brighton & Hove Albion pada 2022 dengan nilai transfer £63 juta. Namun, dua musim pertamanya di Stamford Bridge kerap mendapat sorotan karena performa yang inkonsisten, membuat klub mempertimbangkan untuk melepasnya.
Situasi mulai berubah setelah penampilan impresif Cucurella bersama Timnas Spanyol di Euro 2024. Sejak itu, bek kiri berusia 27 tahun ini menjadi figur sentral di lini belakang Chelsea dan tetap menjadi pemain kunci di bawah arahan Enzo Maresca musim lalu.
AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!
![]()
Lingkungan Klub Kunci Perkembangan Pemain
Pochettino menilai faktor lingkungan ruang ganti menjadi kunci perkembangan Cucurella. Ia menjelaskan bahwa bukan hanya taktik yang menentukan, tetapi bagaimana klub menciptakan atmosfer yang mendukung pertumbuhan pemain.
“Cara tim mengakhiri musim bukan karena kami jenius secara taktik, tetapi karena kami menciptakan lingkungan yang tepat. Cucurella tidak bermain sejak awal dan klub ingin menjualnya, lalu dia menjadi full-back terbaik di Premier League,” ujar Pochettino.
Selain Cucurella, Pochettino menyebut beberapa pemain muda lain yang berkembang pesat dalam atmosfer tersebut, termasuk Conor Gallagher, Enzo Fernandez, Cole Palmer, Noni Madueke, Nicolas Jackson, dan Moises Caicedo. Menurutnya, pendekatan emosional terhadap pemain sangat menentukan pertumbuhan individu.
Cole Palmer dan Kecerdasan Emosional

Asisten Pochettino di Chelsea, Jesus Perez, menyoroti perkembangan Cole Palmer yang langsung menjadi pemain kunci setelah didatangkan dari Manchester City pada 2023 dengan nilai £42,5 juta.
Perez menekankan bahwa kecerdasan emosional Palmer menjadi faktor penting. “Apa yang bisa dia lakukan dengan bola sudah jelas, tetapi yang tidak terlihat adalah bagaimana dia menilai situasi dan bersikap. Meski masih muda dan kadang membuat kesalahan, dia mampu mengakui kesalahan itu dan berkata, ‘Saya salah, maaf, itu tidak akan terjadi lagi.’”
Kemampuan tersebut membuat Palmer menonjol di tim dan cepat beradaptasi dengan tekanan Premier League. Ini juga menunjukkan filosofi Chelsea saat itu: membangun pemain tidak hanya dari teknik, tapi juga mental dan karakter.
Filosofi Chelsea dalam Mengembangkan Pemain
Pochettino menegaskan bahwa pendekatan emosional dan lingkungan positif menjadi kunci bagi perkembangan pemain muda. Bukan hanya Cucurella atau Palmer, tetapi seluruh pemain yang berada dalam ruang ganti yang suportif dapat mencapai potensi terbaik mereka.
Ia menyebut filosofi ini sebagai fondasi yang membuat tim mampu meraih hasil meski menghadapi tekanan tinggi. Hal ini juga menjadi pelajaran penting bagi manajer dan klub lain yang ingin mengembangkan bakat muda secara maksimal.
Bagi Cucurella, perjalanan dari target jual menjadi full-back top Premier League menunjukkan bahwa kesempatan dan lingkungan yang tepat dapat mengubah karier pemain secara drastis. Filosofi ini diyakini akan terus diterapkan oleh Chelsea untuk mencetak lebih banyak pemain berbakat di masa depan. Simak dan ikuti terus informasi sepak bola terbaru secara lengkap hanya di footballastro.com.
